Judul di atas mungkin pernah teman-teman ucapkan sewaktu masih menjadi pelajar. Hayo hayo ngaku.
hehe. Oke, jika kamu penasaran dengan apa yang ingin saya bahas di sini, monggo bacanya dilanjut.
Saya sendiri merupakan salah satu pelajar yang pernah melontarkan kalimat tersebut. Jujur, saya bukan seorang anak IPS yang memiliki kelebihan untuk menghafalkan ribuan kata yang tersusun dalam satu rangkaian dan sistematis ddengan waktu yang fantastis. Saya lebih menyukai pelajara ekonomi yang juga mengandalkan analisis keuangan. Namun jika dibandingkan dengan Geografi, Sosiologi, dan Sejarah, bisa teler saya. Hehe.
Ya, saya cenderung menganggap diri saya bertipe IPA. Karena saya lebih suka analisis, yang jawaban dari suatu pertanyaan tidak harus sama persis dengan teorinya. ‘Yang penting paham intinya’, itu prinsip saya. Walaupun demikian, saya harus menerima konsekuensi bahwa saya harus tetap menghadapi yang namanya hafalan, yakni Biologi. Kalo Matematika? selama ga sulit-sulit amat kayak soal olimpiade, lumayanlah. Kimia? Kudu belajar keras memang, namun alhamdulillah dibantu dengan motivasi guru tercinta saya, saya mampu melewati rintangan kimia dengan baik. Fisika? Hm, agak susah memang, apalagi kenangan waktu UAN, soalnya benar-benar membutuhkan nalar dan konsep sang peserta ujian, termasuk saya. Alhasil saya mengakui bahwa saya kesulitan dengan soal-soal konsep Fisika. Hehe.
Oke, rampung dulu curhatnya. Lanjut ke topik permasalahan yang ingin saya sampaikan. Dalam tulisan kali ini, saya ingin menyampaikan betapa bencinya Anda pada salah satu pelajaran yang Anda terima, sadarilah bahwa pelajaran itu memberikan hal yang baik bagi Anda. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak butuh Fisika, karena nanti Anda ingin jadi seorang musisi, Anda salah. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak butuh Geografi, karena Anda ingin jadi seorang dokter, Anda salah.
Sejalan dengan peraturan yang dicanangkan oleh pemerintah dalam program wajib belajar sembilan tahun (eh, SMA ga termasuk ya kalo gitu?), Anda diwajibkan untuk memiliki pengetahuan dasar yang dibutuhkan ketika nantinya Anda akan memilih bidang studi tertentu yang lebih spesifik. Selain itu, hal yang paling penting dan jarang disadari yakni pemberian materi-materi dasar tersebut sedikit demi sedikit telah turut membentuk pola pikir Anda. Pola pikir yang sudah terbentuk tersebut secara tidak sadar akan membantu Anda untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam hidup sesuai dengan pola pikir yang sudah terbentuk tersebut.
Contoh saja, jika Anda pernah belajar listrik statis dalam Fisika, secara tidak sadar Anda akan menerapkan bagaimana memanfaatkan dan menghindari akibat dari listrik statis. Salah satunya yakni Anda memanfaatkan sandal saat memasang lampu, menyetrika, dan hal yang berhubungan dengan listrik statis. Selanjutnya yakni Anda tidak akan berlindung di bawah pohon besar satu-satunya di tengah lapangan luas. Karena Anda tahu bahwa pohon tersebut akan rawan terkena sambaran petir. Anda juga akan memasang penangkal petir di atas genting Anda, karena Anda tahu bahwa dengan hal tersebut, maka kemungkinan petir menyambar rumah Anda akan sangat kecil. Ya, Anda akan melakukan hal tersebut jika Anda dulu menanamkan wawasan tersebut dalam-dalam, kemudian menerapkannya, sekalipun Anda adalah seorang arkeologi handal.
Untuk perumusan sebaliknya, yakni pemanfaatan ilmu IPS terhadap orang IPA, saya serahkan kepada yang lebih ahlinya, yakni Anda yang berbidang IPS.
Hehe *ngelesmodeon
Pola pikir tersebut tak hanya berlaku pada penerapan teori yang ada dalam pelajaran. Namun juga bisa berupa gambaran sebuah model masalah ketika diberikan suatu kalimat tertentu. Contoh saja jika ada masalah berupa gempa bumi. Tentu pandangan orang IPA dan IPS akan berbeda. Yang satu menganalisis bagaimana gempa bumi bisa terjadi, kemudian yang satunya lagi menganalisis berapa kerugian yang dialami akibat gempa bumi. Jika Anda memiliki contoh yang lainnya, monggo dishare deh.
All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them. ~ Walt Disney
Facebook
Twitter
Google+
Email
Tweets that mention amyunusdotcom: Fisika?! Sejarah?! Bete ah! -- Topsy.com
Apr 21, 2010 @ 23:21:25
[...] This post was mentioned on Twitter by Ibnu Zain, amyunus. amyunus said: amyunusdotcom: Fisika?! Sejarah?! Bete ah! http://blog.amyunus.com/fisika-sejarah-bete-ah/ [...]