Akhir April 2011 lalu merupakan hari gembira bagi masyarakat Inggris karena adanya pernikahan Pangeran William, 28 dan Kate, 29. Saya melihat publik langsung heboh membicarakan pernikahan itu. Mulai dari media kabar yang membicarakan persiapan pernikahan tersebut, aksesori hingga rundown dan kesiapan kedua mempelai, bahkan teman-teman perempuan saya yang tiba-tiba ingin menjadi seorang putri raja. Yaaa oke dah, katanya sih hampir 2 milyar orang diperkirakan menonton sesi pernikahan kedua sedjoli itu, baik lewat televisi maupun streaming internet. Wew! pernikahan memang memberikan hawa kebahagiaan bukan hanya kepada kedua mempelai, tapi orang-orang yang mengetahuinya. Subhanallah. Ngomong-ngomong, kamu nonton ga? Saya sih waktu itu internet lagi lemot, ga bisa streaming, cuma bisa mengamati linimasa saja :lol:

Pada hakikatnya cinta itu memberi

Love

Love

Sebuah pikiran random yang tiba-tiba terlintas dalam benak saya. Saya pikir lagi ada benarnya juga ketika mencintai sesuatu dengan tulus itu memberi, bukan malah ngotot meminta sebuah imbalan atau balasan. Ia ikhlas untuk memberikan segala daya dan upaya kepada sesuatu yang dicintainya. Saya bilang `sesuatu` di sini karena saya kira konteks objek yang dicintai bisa berupa banyak hal. Mulai dari profesi, sebuah barang, hingga kepada manusia.

Mencintai sebuah profesi itu lazim disebut sebagai passion. Ketika engkau merasa nikmat untuk beraktivitas dalam sebuah profesi, itulah passion. Ketika engkau merasa kecanduan untuk beraktivitas dalam sebuah profesi, itulah passion. Ketika engkau merasa seringkali tidak puas terhadap hasil aktivitas sebuah profesi karena engkau ingin terus meningkatkan kualitas dari profesimu tersebut, itulah passion. Passion itu bukan beban, ia justru kenikmatan duniawi yang bisa membuatmu selalu bersemangat menyambut hari-harimu ke depan.

Ingin tahu lebih jauh tentang passion? Silahkan baca buku Your Job is Your Not Career yang ditulis oleh Rene Suahandono. Jika finansial sedang tidak memadai, silahkan pinjam perpustakaan atau teman. Atau boleh juga kamu baca e-book tentang passion oleh senior saya, M. Ilman Akbar, Fasilkom UI angkatan 2005. Silahkan diunduh dan disebarkan secara bebas, dengan referensi tentunya jika ingin menulis ulang atau mengutip kalimat dalam e-book tersebut. :-) Semoga bermanfaat

Lanjuuut!

Ketika kita mencintai sebuah barang, kita akan menjaga barang tersebut. Kita akan menjaganya sebaik mungkin, mulai dari membersihkannya setiap hari agar tidak kotor karena debu, menggunakannya dengan baik agar tidak cepat rusak, hingga menyimpannya dalam brankas agar tidak ikut dicuri orang. Berbagai usaha kita lakukan untuk merawat dan menjaga barang tersebut. Apa barang kecintaanmu?

Mengenai cinta kepada manusia, ah topik tersebut sudah sering dibicarakan oleh banyak orang di luar sana, terutama orang-orang yang sedang galau. Baik remaja yang sedang jatuh hati untuk pertama kalinya *halah*, kasmaran, hingga patah hati. Hayo siapa yang merasa? :mrgreen: Dalam tulisan ini, saya lebih suka membicarakan ini dalam konteks hubungan seorang ibu dengan anaknya. Hubungan darah itu menimbulkan hubungan batin yang tak terkira kuatnya. Saya kira tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana usaha seorang ibu dalam rangka merawat dan mendidik anaknya hingga dewasa.

Apa yang diharapkan oleh sang ibu? Hanya bakti yang penuh dan kesejahteraan sang anak. Jika ia sering memarahimu, bukan berarti ia tidak sayang, dia sedang khawatir anaknya akan berjalan di arah yang salah. Jika ia sering tidak membolehkanmu keluar atau sering bertanya macam-macam tentang aktivitasmu, bukan berarti ia membatasimu, dia sedang khawatir anaknya bergaul dengan orang-orang yang salah. Ia akan menganggapmu sebagai anak yang paling ganteng/cantik walaupun kenyataannya tidak demikian adanya. :lol: Ia akan membanggakanmu dalam hati dan setiap orang tua lainnya setiap kali engkau meraih prestasi dalam hidupmu. Lihatlah dan renungkanlah, bukan dia yang meraih prestasi, bukan dia yang salah arah, bukan dia yang salah pergaulan, akan tetapi dia selalu ikhlas memberikanmu kasih sayang demi pencapaianmu tersebut.

Ah Ibu, aku belum sempat membanggakan kelulusanku padamu. Aku juga belum sempat menceritakan suasana kerjaku nanti. Aku juga belum sempat mengenalkan sosok istriku padamu. Aku juga belum sempat membuatmu menimang cucumu. Aku belum sempat merawatmu dengan baik. Ibu, aku merindukanmu.

Halah, kok jadi curcol yak? :oops: Maap yak. Oke saat ini giliranmu berpendapat apa itu hakikat sebuah cinta.;-)

Photo credit: [Brandon Christopher Warren]

Update

Ternyata pernah dibahas ya kalimat itu oleh Pak Anis Matta, seorang kader partai tertentu di Indonesia ini. Hahaha. :lol: Lucu juga konteks kalimatnya hampir sama. Padahal kami berdua dua raga dan dua jiwa alias berbeda orang.