Trust

Percayalah

Saat engkau ragu, percayalah
Saat engkau gundah, percayalah
Saat engkau khawatir, percayalah
Saat engkau takut, percayalah

Aku tidak mau engkau menyesal suatu saat nanti karena secuil ketidakpercayaanmu itu
Hanya satu pesanku, percayalah

~ AMYunus

Trust

Trust

Mempercayai seseorang, bagi sebagian besar orang tidaklah mudah. Kita bertemu dengan orang asing setiap hari. Saat kita bayi dulu, kita pasti menganggap asing dua orang yang terus-terusan menggendong kita agar kita terlelap, menggoda kita agar tergelak tawa, dan menenangkan kita saat menangis. Kemudian kita pun mengenal mereka sebagai orang tua kita. Siklus orang asing menjadi orang yang dekat dengan diri kita selalu berlangsung tiap saat.

Saat kita masih kecil kita selalu percaya dengan apa yang orang tua bilang. Jika orang tua bilang A, maka kita percaya A. Jika orang tua bilang B, maka kita percaya B. Akan tetapi saat orang tua mulai banyak membuat janji kemudian tidak menepatinya, kita menjadi sering melawan dan tidak percaya kepada mereka. Jadi para orang tua dan calon orang tua, jangan sekali-kali mencoba membohongi anak kecil, atau mereka tidak akan mempercayai kalian. B-)

Permasalahan itu masih saya bahas di lingkup orang tua loh ya. Nah, jika dalam lingkup orang yang paling dekat dengan kita saja ketidakpercayaan masih bisa muncul, apalagi jika dengan orang-orang asing lain seperti teman, guru, dan kolega kerja.

Memupuk kepercayaan memang anget-anget tai ayam / susah susah gampang. (eh bener ga sih peribahasanya? :roll: ). Salah satunya yaitu komunikasi. Dengan komunikasi yang intens, bisa jadi timbul kecocokan yang menimbulkan kepercayaan satu sama lain. Eh ini pasti pada langsung mikir cinta-cintaan (pacar) deh :lol: Ya memang benar, salah satunya memang itu, tapi prinsip komunikasi ini penting dalam hubungan apapun. Hubungan orang tua-anak, pemimpin-yang dipimpin, sesama sahabat, kesemua hubungan itu memerlukan komunikasi yang intens dan kepercayaan yang kuat.

Orang Tua – Anak

Coba deh bayangin kalau orang tua-anak jarang berkomunikasi, kepercayaan sang anak untuk bercerita apapun kepada orang tua akn berkurang. Mereka akan merasa malu-malu gimanaaa gitu untuk memulai cerita. Entah takut diberi komentar yang tidak sesuai harapan, ditolak, diejek, atau bahkan dimarahi. Oke, contoh-contoh yang saya sebutkan memang lebay, tapi setidaknya sang anak merasa khawatir nanti usaha keterbukaannya itu tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Pemimpin – Yang Dipimpin

Begitu pula dengan seorang pemimpin, ia harus pandai-pandai berkomunikasi dengan yang dipimpin. Agar ia mengenal karakter yang ia pimpin dan begitu pula sebaliknya, yang dipimpin mengenal karakter pemimpin mereka. Dengan saling mengetahui karakter masing-masing, keduanya akan merasa percaya diri. Sang pemimpin akan merasa percaya diri bahwa yang dipimpin mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Begitu pula dengan yang dipimpin, mereka menjadi yakin bahwa pemimpin mereka mampu membimbing gerak organisasi mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Sahabat

Setelah menjelaskan hubungan orang tua-anak dan pemimpin-yang dipimpin, haruskah saya jelaskan juga hubungan antara sahabat? Ah, kalian harusnya sudah paham. Iya kan? ;-) *ngeles biar ga banyak-banyak nulis*. Um… Gini deh, kalian pernah ga percaya sama sahabat ga? Kalo pernah kenapa bisa ga percaya? Bukannya mereka orang yang paling bisa ngerti kamu ya? Eits, saya tidak sedang ngomongin sahabat yang menusuk dari belakang, misal saja ngerebut pacar orang. Sahabat kalau sudah diwarnai nafsu sih memang gitu. Aduuuh, nafsu tuh memang bikin onar kok. Hati-hati ya sama yang namanya nafsu. :|

Dengan Lawan Jenis

Biasanya ini nih topik yang paling ditunggu :mrgreen: Katanya sih paling seru dibicarain sama kawula muda yang lagi kasmaran. Cihuy. :-P Um… Saya kasih judul demikian karena bisa jadi kasusnya pacaran, tunangan, atau sudah berstatus suami istri. Weh, kalo ga ada kepercayaan penuh antar keduanya, hubungan bisa berabe. Beranteeeem mulu, curigaaa mulu, proteees mulu. Jadinya konflik kan, suasananya ga enak kan, ga bisa senyum-senyum bareng lagi kan? Tapi eits, gapapa kok. Berantem itu juga perlu. Trust me! *sok-sokan gitu* Tapi jangan lama-lama boy, usahain berantem itu cuma digunakan untuk saling memahami satu sama lain. Setelah itu masing-masing harus mengalah, egoisme masing-masing harus ditahan, masing-masing harus bisa ngerti dan paham satu sama lain. Setelah itu pasti enakan lagi kan, bahagia lagi kan, senyum-senyum bareng lagi kan? :lol: Jadi, percaya ya satu sama lain. Emang sulit sih, tapi akhirnya pasti indah kok. Hihi. :D

Kesimpulan

Ah, kisah kasmaran itu memang tiada habisnya. Jika saya jabarkan, bisa jadi ribuan kata nih dalam satu postingan. Begituuu, hehehe. *halah, alesan lagi biar ga banyak-banyak nulis* :lol: *ditabok sekampung*.

Oke. Lanjut lagi ke tulisan. Kepercayaan itu diperlukan dalam setiap hubungan. Prinsip utama memupuk kepercayaan yakni dengan menjalin komunikasi yang baik. Tanpa adanya komunikasi yang baik, kepercayaan yang semula tercipta akan menghilang dengan sendirinya. Jadi, jagalah komunikasimu dengan baik agar kepercayaan tetap terjaga dengan baik.

Kamu punya tips untuk menjaga kepercayaan? ;-) Bagi dong di kolom komentar

Photo Credit: [kliefi]

Saya juga bingung sih ngasih kesimpulan. Muter-muter antara kepercayaan dan komunikasi mulu. Tapi emang itu sih kuncinya, mereka saling berhubungan. :roll: Ah saya jadi bingung. *nggeblak*