Salah satu event perhelatan terbesar level Nasional bagi siswa SMA seluruh Indonesia pada pekan ini. Konon, Ujian ini merupakan momok penentuan bagi siswa SMA kelas 3 untuk dapat lulus atau tidak. Tak hanya siswa, sekolah bahkan sang orang tua pun ikut-ikutan sibuk serta was-was. Nah, kali ini saya ingin membahas tentang UN minggu lalu nih. Agak basi sih, tapi artikel ini merupakan artikel yang tertunda kemarin. Hehe.

Jika orang lain menulis artikel tentang UN sebagai bahan opini pribadi penulis, kali ini saya sajikan dengan testimonial kelas 3 SMA sebagai pelaku utama UN. Berikut beberapa patah kata yang diutarakan oleh anak kelas 3 SMA tersebut. Kali ini saya adil, cowok satu dan cewek juga satu. :-P Hehe

UN tahun ini, pihak sekolah sudah memberikan dukungan yang maksimal, dari segi mental seperti mendatangkan ESQ Team, tim tips Indonesia dari Malang yang memberikan bimbingan psikologi kontinu, pemantapan, dll. Tapi tetep ya pasti masih tidak tenang.

UN masih menjadi penentu kelulusan, walaupun ada dalih bahwa yang menentukan kelulusan adalah sekolah, selama standar UN masih ditentukan nasional, UN menjadi tolak ukur utama kelulusan. Tahun ini berbeda, di kota saya ini merupakan kota yang agamis, makanya kami juga menjalani UN agama. Total hari ujian kami menjadi seminggu walaupun tempat lain sudah selesai UN.

Oia, dari pengawas UN, secara keseluruhan sudah baik. Layaknya anak sendiri, kami diberikan perhatian yang cukup, seperti kelengkapan identitas diri. Kebanyakan pengawas UN yang jahat itu yang masih muda-muda dan belum punya anak. Mungkin mereka masih belum ngerasain gimana rasanya punya anak yang lagi UAN.

–Sebut saja Bunga

Emm… menurut saya, negara hanya buang2 uang aja! UNAS gak fungsi! banyak kecurangan! Banyak juga menimbulkan perkara! Misalnya saja,, beban mental bagi orang yang tak lulus. Tapi, yang paling penting, seperti yang saya rasakan sekarang. Saya merasa sangat bersalah! Semua saya serahkan pada Allah. Saya minta lulus ke Allah tapi lewat “pihak ketiga”. Astaghfirullah.

UNAS kali ini pun saya lewati tanpa ada pacuan adrenalin, kayak main2 biasa gitu.

–Sebut saja Budi

Wah, ternyata dari pelaku utama sendiri masih menganggap bahwa UN itu bernilai negatif. Kebijakan memang sudah ditetapkan di sana sini. Namun juga masih banyak menuai protes dan bentuk ketidaksetujuan lainnya. Hm, pengen tahu pendapat yang lainnya? Berikut berita-berita yang saya baca dari Kompas bertopik UN SMA. Monggo dikunjungi bagi yang belum sempat baca dan pengen tahu.

  • http://goo.gl/wgBZ
  • http://goo.gl/DYDs
  • http://goo.gl/m0nX
  • http://goo.gl/qKIk

Yah, Ujian Nasional pasti menjadi salah satu kenangan tersendiri bagi para siswa. Entah kenangan yang baik atau buruk. Bahkan bisa saja, nanti ada yang bercerita bahwa, “Gila, gue kemarin waktu UN tuh ya, malemnya gue maen PS ampe pagi XD hahaha”. Biasanya sih yang kayak gitu2 dibangaa2in. Gimana kenangan UN teman-teman yang sudah mengalami? ;-D

UPDATED — 8 April 2010

Artikel yang sangat menarik pernah saya baca di Kompas pada tanggal 8 April 2010. Artikel ini ditulis oleh seorang guru les privat. Hm, semoga menjadi pelajaran bagi yang berkaitan. [baca artikel tersebut]

UPDATED — 17 April 2010

Opini dari Bapak Direktur Kemahasiswaan Universitas Indonesia mengenai UN. [baca artikel tersebut]

UPDATED — 28 APRIL 2010

Setelah dikasih buanyak banget materi tentang fakta-fakta mengenai UN, ga afdhal dung kalo sang penulis tidak menuliskan opininya. :-P Hehe. Monggo dilihat di artikel 27 April 2010 [baca opini saya tentang UN]