Mumpung sempet, mumpung sebelum lupa. Barusan saya ikut shalat Jumat di Masjid Al-Hikam II Beji Depok. Masjid tersebut merupakan binaan Pak Hasyim Muzadi, salah satu tokoh PBNU. Beliau sering terlihat di rumah sekitar masjid tersebut (mungkin rumahnya?) Oke, kita langsung lanjut terhadap inti dari tulisan ini, yakni apa yang saya dengar (lebih tepatnya apa yang saya fahami) dari sang khatib selama ia berkhotbah.
Apa yang saya tulis di bawah ini tidak persis apa yang seperti dikatakan oleh sang khatib. Namun tulisan di bawah ini merupakan apa yang menjadi pemahaman saya terhadap pesan sang khatib. Semoga bermanfaat.

Sang khatib berpesan kepada kami bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman umat agama Islam yang berisi nilai-nilai yang sangat komperehensif. Saking komperehensifnya, ayat-ayat yang terkandung di dalamnya tidak bisa semena-mena ditafsirkan secara berdiri sendiri. Dalam pemahaman yang lebih mudah, ayat tersebut juga berkaitan dengan ayat lain yang penafsirannya saling mendukung dan melengkapi. Jadi tidak bisa ditafsirkan, jika yang ditafsirkan tersebut hanya sepotong dua-potong ayat Al-Qur’an.

Kita sebagai orang awam, yang belum mengerti banyak tentang teknik tafsir Al-Qur’an tentu tidak boleh menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pemahaman kita sendiri. Penafsiran tersebut harus memiliki dasar atau panutan. Sang khatib berwasiat agar kita selalu berpegang teguh terhadap Jumhur Ulama (pendapat sebagian besar ulama). Perlu diketahui bahwa ulama merupakan pewaris para nabi terdahulu. Oleh karena itu, apa yang menjadi jumhur ulama (kebanyakan ulama, bukan hanya seorang dua-orang) patut kita jadikan tuntunan atau panutan sebagai pedoman hidup.

ps: Khutbah didengarkan di Masjid Al-Hikam Beji Depok, pada tanggal 19 Maret 2010