Wahai Fazaku
Aldi sudah tidak punya Ibu sejak ia kecil. Tepat pada umur 5 tahun ibunya meninggal karena sebuah penyakit kronis. Saat itu ia masih belum mengerti apa arti sebuah kehilangan seseorang yang amat berharga dalam hidupnya.
Seiring bertambahnya umur, ia mulai mengerti bahwa ia berbeda dengan teman-temannya yang lain. Ia tidak punya ibu. Seringkali ia merasakan kangen tak terbendung kepada seseorang yang belum ia kenal dengan baik. Ia ingin bertemu dengan seseorang yang telah melahirkannya itu kemudian mengucapkan ‘Bu, aku sangat sayang padamu’.
Tak ada sesuatu yang abadi, obat kesepian yang selalu diberikan oleh ayahnya itu sudah berkurang sejak ayahnya sakit-sakitan. Kemudian tepat 5 tahun lalu saat ia berumur 16 tahun, ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ia tidak kuasa menahan tangis karena kepergian ayahnya tersebut. Sekali lagi ia kehilangan salah satu orang paling berharga dalam hidupnya.
Saat itu dia putus asa. Mungkin itulah kondisi paling rendah seumur hidupnya. Ia sudah kehilangan harapan. Ia sudah kehilangan semangat untuk meraih cita-citanya yang dulu melangit itu.
Tapi kondisi itu tidak berlangsung lama. Ia sadar bahwa ia masih punya seseorang yang berharga, itulah adik perempuannya. Ia mengumpulkan semangatnya kembali untuk membiayai beban hidup dirinya sendiri dan adiknya itu. Ia pun bercita-cita bahwa ia ingin adiknya menjadi orang yang sukses suatu saat nanti. Mungkin cita-cita inilah yang pernah dimiliki oleh ayahnya dulu.
Faza, nama adik perempuan satu-satunya yang ia miliki saat itu. Saat itu Faza masih kelas 1 MTs, sebuah madrasah yang sederajat dengan Sekolah Menengah Pertama. Aldi meneruskan usaha ayahnya tersebut, seorang penjaja koran. Jangan salah, ia masih bersekolah pada siang harinya seusai menjajakan koran di jalanan. Hasil keringatnya tersebut mampu mencukupi biaya bulanan mereka berdua. Walaupun kadang hutang masih menjadi andalan utama saat hasil jajaan koran dirampok oleh preman jalanan.
Usai lulus SMA, ia memutuskan untuk tidak menginjak jenjang perkuliahan mengingat biaya masuk kuliah sudah mencapai puluhan juta rupiah. Ia pun ingin fokus untuk menciptakan usahanya sendiri di samping menjajakan koran. Dengan dukungan masyarakat setempat, ia berinisiatif untuk membuka warung kopi karena banyak orang yang menyukai kopi buatannya. Puji Tuhan Yang Maha Esa, bisnis itu stabil karena lumayan dikenal dan menjadi tempat nongkrong warga setempat di kala senggang.
Bisnis itu berkembang menjadi sebuah warung makan kecil. Ia menyediakan menu nasi goreng dan beberapa jus buah-buahan. Bukan bisnis yang besar memang, akan tetapi hasilnya sudah cukup untuk membiayai kebutuhan adik perempuannya yang semakin dewasa.
Ia sangat menyayangi adiknya itu. Ia selalu menyempatkan waktu bercanda tawa dan bertanya kabar sekolahnya hari itu sesuai adiknya sekolah. Cerita yang selalu disampaikan dengan bersemangat oleh adiknya itu sudah merupakan obat ajaib penghilang rasa lelah bekerja seharian itu. Masa-masa yang paling ditunggunya kadang ia siapkan dengan sebuah kado hadiah karena adiknya mendapatkan prestasi tertentu, misalnya saja nilai ulangan yang bernilai seratus. Walaupun adiknya tidak pernah meraih ranking satu di kelas, akan tetapi ia bangga memiliki adiknya yang selalu meraih ranking satu dalam hatinya itu.
Suasana membahagiakan itu agak berubah saat adiknya mulai beranjak kelas 2 SMA. Adiknya mulai sering keluar rumah dengan teman-temannya. Sesi cerita seusai sekolah itu pun mulai berkurang karena kesibukan keduanya masing-masing. Aldi sangat merasa kehilangan adiknya yang manja itu. Namun ia harus memaklumi bahwa saat ini Faza sudah bukan anak kecil lagi, ia sudah remaja dan sedang dalam masa transisi menjadi seorang wanita dewasa.
Konflik mulai datang saat adiknya sering uring-uringan saat ditanyai Aldi hendak kemana dan dengan siapa. Aldi merasa bertanggung jawab atas adiknya sedangkan Faza selalu merasa terkekang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh kakaknya tersebut. Aldi sangat bersedih saat itu terutama saat Faza nekat tidak pulang ke rumah seharian penuh. Aldi tahu bahwa ia menginap di rumah temannya, tapi ia sengaja membiarkannya sementara karena ia merasa bahwa adiknya butuh waktu untuk sendiri dulu.
Saat adiknya pulang ke rumah, Aldi mencoba untuk berbicara empat mata dengan adiknya. Ia ingin minta maaf dan menyelesaikan masalah itu dengan baik-baik. Namun adiknya menolak dengan langsung masuk kamar kemudian menguncinya. Aldi terkesiap dan sangat terpukul terhadap perlakuan adiknya itu.
Ia sangat bingung saat itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus melunak? Memang kondisi akan terlihat damai-damai saja, akan tetapi ia khawatir bahwa kelakuan adiknya itu akan melebihi batas. Dan ia tidak ingin adik perempuan satu-satunya itu menjadi seorang yang hina. Namun jika ia terus bersikeras mengontrol adiknya, ia tahu kondisi tak akan segera membaik karena seorang remaja seperti adiknya tidak suka untuk dikontrol oleh orang lain. Dan ia khawatir adiknya akan memberontak dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya.
Apakah yang sebaiknya Aldi lakukan?
Disclosure: Cerita ini fiksi kok. Apabila ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu merupakan ketidaksengajaan. Mohon maklum jika cerita tidak dibuat dengan baik karena saya masih penulis amatir. Saran dan kritik sangat diharapkan jika memang ada. Oia, pertanyaan di akhir cerita tetep dijawab loh ya. Saya ingin tahu nih pendapat dari teman-teman. Terima kasih.
Photo Credit: [beth19]